Musisi pendatang baru Tomiyang resmi menyapa penikmat musik Tanah Air lewat perilisan single perdana bertajuk “Kasih (IBU) Tak Sampai” pada 14 Agustus 2026. Mengusung genre pop ballad yang emosional, karya debut ini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital. Lagu ini lahir langsung dari pengalaman personal Tomiyang yang berjuang menghadapi duka mendalam serta kerinduan tak bertepi setelah ditinggal pergi oleh sang ibu tercinta.
Sebagai bentuk penyembuhan diri (healing), “Kasih (IBU) Tak Sampai” menangkap momen emosional saat Tomiyang berkendara pulang sendirian usai berziarah ke makam ibunya. Perasaan hampa di sepanjang perjalanan tersebut berhasil dirangkum menjadi seuntai nada yang mewakili jeritan hati siapa pun yang pernah kehilangan figur sentral dalam hidup. Judul lagu ini melambangkan sebuah pengharapan yang terputus, yakni kerinduan seorang anak agar sang ibu bisa menyaksikan setiap pencapaian serta mimpi-mimpinya yang kini menjadi kenyataan.
Secara lirik, lagu ini kaya akan metafora mendalam yang menyentuh jiwa. Larik ikonik “Kau jadi rumah yang tak bisa kumasuki lagi” menggambarkan batas ruang antara doa yang terus dipanjatkan dan pelukan fisik yang tak lagi dapat dirasakan. Sementara frasa “Aku simpan kau di ruang yang tak bernama” merefleksikan pergulatan emosi yang campur aduk—antara sedih, kecewa, hingga rindu berat—yang sulit didefinisikan dengan kata-kata biasa. Kenangan sederhana seperti senyuman ibu, aroma masakan rumah, hingga baju pemberian sang ibu kini menjelma menjadi harta paling berharga.
Proses penggarapan karya ini memakan waktu hingga 10 bulan demi menemukan keseimbangan aransemen dan kedalaman rasa yang pas. Tantangan terbesar Tomiyang terletak pada penjiwaan vokal, di mana ia kerap tak kuasa menahan air mata saat berada di dalam bilik rekaman. Suara bergetar dan rasa sesak yang hadir di setiap sesi justru melahirkan kejujuran ekspresi yang membuat aransemen musik dan vokalnya menyatu secara alami dan menyayat hati.
Melalui single terbarunya, Tomiyang ingin menyampaikan pesan moral yang sangat mengena bagi pendengarnya: menghargai dan menyayangi orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Ia menekankan bahwa hal-hal kecil yang kerap dianggap biasa saat orang terkasih masih hidup akan terasa sangat bernilai ketika sosok tersebut telah tiada. Kejujuran serta kesederhanaan dalam menyampaikan pesan inilah yang menjadi fondasi utama dalam identitas bermusiknya.
Sebelum memantapkan langkah di industri musik sebagai penyanyi, Tomiyang telah lebih dulu dikenal publik sebagai pendiri (Founder) dari Pink Print Team (PPT). Komunitas tari yang telah ia bina selama satu dekade tersebut sukses menjadi wadah berkembang bagi banyak talenta dan musisi berlatar belakang penari. Keputusannya untuk terjun ke dunia tarik suara merupakan wujud panggilan jiwa yang telah lama ia simpan hingga akhirnya berhasil direalisasikan lewat karya yang monumental ini.
Hadirnya “Kasih (IBU) Tak Sampai” diharapkan dapat menjadi pelipur lara dan teman setia bagi siapa saja yang sedang berjuang menyembuhkan luka akibat kehilangan. Lebih dari sekadar lagu, karya perdana Tomiyang ini menjadi pengingat hangat akan abadi dan tak terbatasnya kasih seorang ibu, yang akan terus hidup di dalam kenangan dan doa anak-anaknya.

