![]() |
| Photo source: Instagram/helgebrekke |
Fenomena kemunculan Witch Club Satan dalam lanskap musik ekstrem global tidak dapat dipandang hanya sebagai penambahan eksponen baru dalam genre black metal. Grup trio asal Norwegia ini mewakili sebuah pergeseran paradigma yang fundamental, di mana elemen-elemen tradisional black metal—yang secara historis didominasi oleh maskulinitas, isolasi, dan estetika makabre—direkonfigurasi menjadi instrumen perjuangan feminis radikal dan seni pertunjukan yang sangat terstruktur. Witch Club Satan menggunakan panggung bukan sekadar sebagai tempat pertunjukan musik, melainkan sebagai altar ritual untuk reklamasi otonomi tubuh dan suara perempuan yang selama berabad-abad telah ditekan oleh struktur patriarki.
Witch Club Satan terdiri dari tiga perempuan yang memiliki latar belakang yang sangat spesifik dalam dunia seni pertunjukan, sastra, dan aktivisme di Norwegia. Kehadiran mereka membawa dimensi teatrikal yang jarang ditemukan pada band black metal konvensional yang cenderung lebih fokus pada aspek sonik semata.
Trio ini terdiri dari Victoria Fredrikke Schou Røising, Nikoline Spjelkavik, dan Johanna Holt Kleive. Penting untuk dicatat bahwa sebelum membentuk Witch Club Satan pada tahun 2021, Røising dan Spjelkavik telah lama berkolaborasi dalam dunia teater melalui perusahaan yang mereka dirikan, Lost and Found Productions, pada tahun 2016.
Ketiga anggota ini berbagi tanggung jawab vokal, yang sering kali diwujudkan dalam bentuk teriakan polifonik dan nyanyian a cappella yang menyerupai mantra atau incantation. Keterlibatan mereka dalam dunia teater memberikan keunggulan dalam menciptakan narasi visual yang kuat, di mana setiap gerakan di atas panggung diatur dengan presisi artistik untuk mendukung pesan ideologis mereka.
Witch Club Satan berasal dari Norwegia, negara yang dikenal sebagai tempat kelahiran gelombang kedua black metal (second-wave black metal). Secara lebih spesifik, akar kreatif mereka tertanam di Norwegia Utara, sebuah wilayah yang sering disebut sebagai "Land of the Midnight Sun". Pengaruh geografis ini sangat terasa dalam lirik dan konsep mereka yang sering kali merujuk pada sejarah kelam perburuan penyihir di wilayah tersebut.
Latar belakang ini bukan sekadar atribut dekoratif. Para anggota band melakukan penelitian mendalam mengenai sejarah pengadilan penyihir di Norwegia Utara untuk mengintegrasikan suara-suara perempuan yang teraniaya di masa lalu ke dalam musik mereka. Salah satu contoh nyata adalah lagu "Steilneset" yang merujuk pada Monumen Steilneset di Vardø, sebuah situs peringatan bagi 91 orang (sebagian besar perempuan) yang dieksekusi karena tuduhan sihir pada abad ke-17. Dengan cara ini, Witch Club Satan memposisikan diri mereka sebagai medium bagi para leluhur perempuan yang dibungkam, menggunakan jeritan black metal sebagai bentuk katarsis kolektif bagi ketidakadilan lintas generasi.
Filosofi Ketelanjangan dan Reklamasi Otonomi Tubuh
Salah satu aspek yang paling sering dibahas dan memicu kontroversi dari Witch Club Satan adalah keputusan mereka untuk tampil tanpa busana atau minimalis secara pakaian dalam segmen-segmen tertentu dari pertunjukan mereka. Analisis ahli menunjukkan bahwa tindakan ini bukanlah upaya eksploitasi seksual atau sekadar teknik kejutan (shock factor), melainkan sebuah manifestasi dari filosofi feminis radikal yang mereka usung.
Dalam wawancara mereka, anggota band secara eksplisit menyatakan bahwa ketelanjangan di atas panggung adalah alat untuk merebut kembali tubuh perempuan dari komodifikasi dan pandangan patriarki. Nikoline Spjelkavik mencatat bahwa ketika seorang perempuan telanjang dalam budaya populer, ia sering kali dipandang sebagai objek untuk kenikmatan orang lain. Dengan tampil telanjang dalam konteks black metal yang agresif, penuh darah, dan konfrontatif, Witch Club Satan mengubah tubuh menjadi kanvas pesan mereka. Ketelanjangan ini merepresentasikan kepemilikan penuh atas diri sendiri, di mana kerentanan (vulnerability) bertransformasi menjadi kekuatan (power) yang mengintimidasi.
![]() |
| Photo source: Pierrre Borghi |
Dimensi filosofis ketelanjangan ini mencapai titik puncaknya ketika Victoria Røising tampil dalam kondisi hamil tua dengan anak kembar pada tahun 2024 dan 2025. Penampilan seorang perempuan hamil yang melakukan vokal ekstrem dan memainkan bass dalam ritual black metal adalah sebuah aksi panggung yang dianggap bersejarah dan sangat kuat secara simbolis.
Aksi ini bertujuan untuk mendobrak stereotip tentang tubuh perempuan hamil yang dianggap lemah atau harus disembunyikan. Sebaliknya, Witch Club Satan memposisikan kehamilan sebagai bentuk kekuatan biologis yang paling murni dan ekstrem. Røising sering menyatakan di atas panggung bahwa ada "lima penyihir" yang hadir, mengintegrasikan proses penciptaan kehidupan ke dalam ritual musik yang biasanya dikaitkan dengan kematian dan kegelapan.
Selain ketelanjangan, penggunaan darah (darah buatan) sangat dominan dalam estetika Witch Club Satan. Darah dalam filosofi mereka melambangkan siklus hidup dan mati, namun juga merupakan referensi langsung terhadap menstruasi—sebuah realitas biologis perempuan yang telah lama dianggap tabu atau memalukan oleh masyarakat. Dengan melumuri tubuh mereka dengan darah, mereka melakukan ritual pembersihan dari rasa malu yang dipaksakan secara sosial, sekaligus merayakan vitalitas tubuh perempuan dalam segala aspeknya, baik yang "cantik" maupun yang "mengerikan".
Pertanyaan mengenai apakah Witch Club Satan merepresentasikan awal mula kehidupan manusia seperti Adam dan Hawa dalam keadaan tanpa busana sebelum jatuh ke dalam dosa memberikan ruang analisis yang sangat menarik dari sudut pandang teologis dan sosiologis. Meskipun band ini tidak secara eksplisit menyebut narasi Kejadian (Genesis) dalam materi promosi mereka, terdapat paralel yang kuat antara tindakan mereka dengan pencarian kembali kondisi "keberadaan primordial".
Dalam teologi Kristen, kesadaran Adam dan Hawa akan ketelanjangan mereka setelah memakan buah terlarang adalah simbol dari masuknya rasa malu, kesadaran diri yang terdistorsi, dan penundukan di bawah hukum moral yang kaku. Witch Club Satan, melalui aksi tanpa busana mereka, dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk kembali ke keadaan sebelum "kejatuhan" tersebut—sebuah keadaan di mana tubuh manusia ada tanpa beban penilaian moral atau sosial.
Namun, Witch Club Satan melakukan ini melalui lensa "Satanisme" sastra yang mendefinisikan "Satan" bukan sebagai entitas jahat, melainkan sebagai simbol pemberontakan dan kebebasan. Jika Adam dan Hawa menyadari ketelanjangan mereka karena "dosa", Witch Club Satan justru merayakan ketelanjangan tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap konsep dosa yang diciptakan oleh struktur patriarki. Mereka memilih untuk tetap "telanjang dan tidak malu", dengan sengaja memakan "buah pengetahuan" untuk memahami apa yang ada di dalam diri perempuan ketika ia tidak lagi mencoba untuk menjadi "baik dan cantik" menurut standar dunia.
Penampilan mereka bertujuan untuk menyampaikan "kebenaran universal" yang melampaui pakaian atau status sosial. Dengan melepaskan busana, mereka melepaskan identitas sosial yang diberikan oleh masyarakat, menyisakan manusia dalam bentuknya yang paling primitif dan jujur. Hal ini selaras dengan upaya mereka untuk menyalurkan energi "primitif" dari black metal awal yang belum terbebani oleh aturan-aturan genre yang mapan.
Struktur Ritual: Luft, Ild, Vann, dan Jord
Konser Witch Club Satan bukan sekadar urutan lagu, melainkan sebuah ritual yang terbagi menjadi empat babak berdasarkan elemen-elemen alam. Struktur ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh latar belakang teater dan seni pertunjukan terhadap operasional band.
Babak I: Luft (Udara)
Babak pembuka ini berfungsi sebagai invokasi. Suasana panggung biasanya diatur dengan lampu yang remang-remang dan berkedip, menciptakan atmosfer yang menyeramkan dan penuh suspensi. Secara sonik, bagian ini didominasi oleh drone etereal, bisikan-bisikan yang meresahkan, serta teriakan yang menusuk telinga. Lagu-lagu seperti "Mother" dan "Steilneset" sering dimainkan dalam babak ini untuk membangun kehadiran "hantu" para perempuan yang teraniaya di masa lalu.
Babak II: Ild (Api)
"Ild" adalah ledakan agresi murni. Pencahayaan panggung berubah menjadi merah membara, mencerminkan kemarahan dan furia ritualistik. Dalam babak ini, band sering melakukan perubahan kostum pertama mereka, di mana mereka muncul dalam keadaan hampir telanjang atau hanya mengenakan pakaian dalam minimal. Kehadiran "The Witch Choir" (Paduan Suara Penyihir) sering ditambahkan di sini untuk memberikan lapisan harmoni yang menghantui di tengah hiruk-pikuk gitar distorsi dan drum blastbeat.
Babak III: Vann (Air)
Setelah intensitas api, babak "Vann" memberikan kontras yang tajam namun tetap meresahkan. Sering kali babak ini dibuka dengan kehadiran seorang anak kecil di atas panggung yang berbicara tentang nilai-nilai yang diusung oleh band—sebuah teknik teater yang sangat efektif untuk mengguncang ekspektasi penonton. Para anggota band muncul kembali dalam pakaian denim yang sobek-sobek dan mengenakan topeng, menciptakan citra kekacauan ritualistik yang melibatkan interaksi fisik langsung dengan penonton, seperti crowd surfing yang agresif.
Babak IV: Jord (Tanah)
Babak final ini berfungsi untuk "membumikan" ritual. Ritme drum menjadi lebih berat dan padat, diiringi oleh suara-suara guttural yang dalam. Paduan suara kembali untuk menyatukan harmoni mereka dengan geraman para anggota band, menciptakan atmosfer primordial yang memukau. Ritual biasanya ditutup dengan lagu "Solace Sisters," yang berfungsi sebagai penutup upacara dan pelepasan energi kolektif.
Meskipun baru aktif secara luas sejak 2022, Witch Club Satan telah meraih berbagai pengakuan penting, baik dari media musik arus utama maupun institusi penghargaan seni di Norwegia. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa pesan yang mereka bawa memiliki resonansi yang melampaui komunitas musik ekstrem.
Penghargaan EDVARD-prisen sangat signifikan karena diberikan oleh TONO (organisasi pencipta lagu Norwegia) untuk menghargai karya yang dianggap berani dan inovatif. Juri memuji Witch Club Satan karena telah menjungkirbalikkan berbagai konvensi dalam genre black metal sejak penampilan pertama mereka.
Selain penghargaan formal, band ini juga mendapatkan pengakuan melalui:
Media Global: Menjadi subjek liputan utama di majalah ternama seperti VICE, Rolling Stone Australia, dan Metal Hammer.
Film Dokumenter: Pada tahun 2026, sebuah film dokumenter berjudul Witch Club Satan yang disutradarai oleh Maja Holand dijadwalkan untuk dirilis, mencatat perjalanan mereka dari sekolah teater hingga ke panggung festival internasional.
Rekomendasi Editor: Lagu-lagu mereka sering masuk dalam daftar "terbaik" di publikasi seperti Louder yang menempatkan mereka dalam daftar 13 lagu metal baru terbaik yang harus didengar.
Witch Club Satan telah menunjukkan intensitas tur yang sangat tinggi, berpindah dari panggung teater avant-garde ke festival musik metal terbesar di Eropa dalam waktu yang sangat singkat.
Witch Club Satan telah membangun reputasi internasional melalui penampilan di berbagai festival musik besar, dimulai dari terobosan mereka di Øya Festival di Oslo pada Agustus 2022. Pada Juni 2023, mereka memperluas jangkauan dengan tampil di festival metal bergengsi Tons of Rock di Norwegia dan Roskilde Festival di Denmark, di mana mereka berhasil memukau audiens tradisional black metal dengan aksi panggung teatrikal mereka. Tahun 2025 menandai periode festival yang sangat aktif bagi grup ini, dengan jadwal yang mencakup Roadburn Festival di Belanda pada April, Hellfest di Prancis, Mystic Festival di Polandia, dan Fusion Festival di Jerman pada Juni, serta Rockstadt Extreme Fest di Rumania pada Juli. Mereka juga melakukan debut yang sangat dinanti di Inggris pada Supersonic Festival di Birmingham pada Agustus 2025.
Penampilan mereka di Supersonic Festival di Birmingham dianggap sebagai salah satu momen terbaik dalam sejarah musik black metal kontemporer di Inggris, di mana mereka berhasil memadukan kebrutalan sonik dengan estetika teatrikal yang sangat mengganggu namun memikat.
Tahun 2026 akan menjadi tahun ekspansi besar bagi Witch Club Satan dengan dua tur utama yang telah dijadwalkan:
1. Tur Eropa sebagai Pendukung Band Avatar (Februari - Maret 2026) Mereka akan melakukan perjalanan melintasi berbagai negara di Eropa termasuk Belgia, Inggris, Belanda, Spanyol, Portugal, Italia, Jerman, dan Prancis.
2. Tur Amerika Utara Pertama (Mei - Juni 2026) Tur ini akan mencakup 15-16 kota di Amerika Serikat dan Kanada, dengan dukungan dari Penelope Trappes dan band Patriarchy.
3. Band ini memiliki agenda festival yang masif di dua benua sebagai bagian dari ekspansi global mereka. Mereka dijadwalkan tampil di festival Prepare The Ground di Toronto, Kanada pada Mei 2026, yang menjadi bagian dari tur Amerika Utara pertama mereka. Kembali ke sirkuit festival musim panas Eropa, trio ini akan tampil di Provinssirock (Provinssi) di Finlandia pada Juni 2026, diikuti oleh Resurrection Fest di Spanyol pada Juli 2026. Rangkaian festival mereka di tahun 2026 juga mencakup penampilan di Brutal Assault di Ceko pada awal Agustus dan Motocultor Festival di Prancis pada pertengahan Agustus 2026.
Band ini menyatakan bahwa tur Amerika Utara ini akan menjadi sebuah "ritual yang kuat" dan bertujuan untuk menawarkan "tempat perlindungan dan komunitas di dalam coven kami" di tengah masa perpecahan dunia.
Witch Club Satan beroperasi dalam sebuah ruang yang menggabungkan okultisme, feminisme, dan performa panggung yang transgresif. Meskipun unik, terdapat beberapa band lain yang memiliki elemen-elemen konsep yang serupa, baik secara historis maupun kontemporer.
Referensi sejarah yang paling dekat adalah band occult rock tahun 1960-an, Coven. Dipimpin oleh vokalis Jinx Dawson, Coven dikenal karena memperkenalkan elemen-elemen "Black Mass" ke dalam musik rock. Pada sampul album debut mereka tahun 1969, Witchcraft Destroys Minds and Reaps Souls, Dawson tampil telanjang di atas altar pengorbanan—sebuah citraan yang menjadi prototipe bagi penggunaan tubuh perempuan sebagai pusat ritual musik ekstrim.
Tidak seperti banyak sejawat mereka di kancah black metal yang sering kali terjebak dalam retorika sayap kanan atau nihilisme murni, Witch Club Satan secara tegas menyatakan bahwa "musik tidak pernah bisa dipisahkan dari politik".
Band ini telah menggunakan panggung mereka untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Dalam berbagai pertunjukan, mereka membentangkan bendera Palestina dan mendedikasikan lagu seperti "Black Metal is Krig" untuk mengkritik kekerasan di Gaza. Selama penampilan mereka di Supersonic Festival, mereka memberikan pidato yang sangat tajam yang mengutuk kebijakan Benjamin Netanyahu, sebuah tindakan yang memicu reaksi beragam dari komunitas metal—mulai dari dukungan penuh hingga ancaman kematian dan label "woke".
Kepedulian lingkungan juga merupakan pilar penting dalam filosofi mereka. Lagu "Mother Sea" digambarkan sebagai "doa untuk pengampunan lingkungan". Mereka menghubungkan sejarah penyihir—yang sering kali merupakan perempuan dengan pengetahuan mendalam tentang tanaman dan alam—dengan perjuangan ekologi modern. Bagi Witch Club Satan, penghancuran alam dan penindasan terhadap perempuan adalah dua sisi dari koin patriarki yang sama.
Kehadiran Witch Club Satan tidak selalu diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas black metal tradisional. Karena latar belakang mereka yang berasal dari sekolah teater dan pesan feminis mereka yang kuat, beberapa pihak menuduh mereka sebagai "industry plant" atau seniman yang mencoba "menginfiltrasi" kancah black metal untuk kepentingan ideologis.
Beberapa kritikus di platform seperti Metal Archives menuduh musik mereka sebagai "styrofoam black metal"—yang secara estetika mirip namun dianggap tidak memiliki kedalaman atau keaslian. Namun, dukungan dari tokoh-tokoh kunci seperti Necrobutcher dari Mayhem memberikan legitimasi yang kuat. Necrobutcher secara terbuka menyatakan bahwa kancah black metal "membutuhkan" energi primitif dan murni seperti yang dibawa oleh trio ini, menegaskan bahwa black metal pada dasarnya adalah tentang pemberontakan terhadap otoritas apa pun, termasuk otoritas aturan genre itu sendiri.
Witch Club Satan telah berhasil menciptakan sebuah entitas budaya yang melampaui batasan genre. Dengan memadukan latar belakang teater yang kuat, penelitian sejarah yang mendalam, dan keberanian fisik melalui ketelanjangan dan performa kehamilan, mereka telah mendefinisikan ulang apa artinya menjadi band black metal di abad ke-21.
Mereka bukan sekadar musisi; mereka adalah praktisi ritual yang melihat musik sebagai mantra ("spells") berkekuatan transformatif. Ketelanjangan mereka bukan tentang seksualitas, melainkan tentang kejujuran biologis dan penolakan terhadap kontrol sosial—sebuah simbol kembali ke kondisi "Eden" tanpa rasa malu, namun dipersenjatai dengan kemarahan perempuan yang telah terakumulasi selama berabad-abad. Dengan agenda tur internasional yang masif dan pengakuan dari berbagai institusi seni tertinggi di Norwegia, Witch Club Satan siap untuk membawa "coven" mereka ke panggung dunia, membuktikan bahwa jeritan black metal adalah suara universal untuk kebebasan dan perlawanan melalui darah, kebisingan, dan penguasaan penuh atas tubuh mereka, trio ini tidak hanya memainkan musik ekstrem, tetapi juga membangun sebuah gerakan yang menuntut ruang bagi suara perempuan dalam sejarah kegelapan manusia.


