![]() |
| Photo source: instagram/rockinsolofestival |
Fenomena pembatalan tur konser grup musik black metal asal Polandia, Behemoth, pada awal tahun 2026 menandai titik krusial dalam sejarah interaksi antara ekspresi artistik transgresif dan otoritas negara serta kelompok keagamaan. Sebagai entitas yang telah berkarier sejak tahun 1991, Behemoth bukan sekadar sebuah grup musik, melainkan representasi dari perlawanan terhadap doktrin tradisional, yang dalam prosesnya sering kali berbenturan dengan norma hukum dan sosial di berbagai yurisdiksi. Pembatalan yang terjadi di Turki dan India pada Februari 2026 mencerminkan eskalasi ketegangan antara arus globalisme budaya dan kebangkitan konservatisme lokal yang menggunakan instrumen negara serta tekanan massa sebagai alat sensor.
Pembatalan konser Behemoth di Turki
![]() |
| Photo source : instagram/behemoth |
Pembatalan konser Behemoth di Turki pada Februari 2026 merupakan hasil dari proses sistemik yang melibatkan kampanye media, reaksi publik di ruang digital, dan keputusan administratif dari otoritas gubernur. Tur ini, yang bertajuk "Chant of the Eastern Lands," awalnya dijadwalkan untuk menyapa penggemar di Istanbul dan Ankara. Namun, dinamika politik dan sosial di Turki menciptakan lingkungan yang sangat bermusuhan bagi band yang secara terbuka mengusung tema-tema antiteisme dan ikonografi yang dianggap provokatif oleh sebagian besar masyarakat beragama.
Secara kronologis, rangkaian kejadian bermula ketika jadwal tur Behemoth diumumkan pada Januari 2026. Segera setelah pengumuman tersebut, saluran media pro-pemerintah dan penyiar Islamis seperti Akit TV mulai melakukan kampanye penolakan yang masif. Host berita Erkan Tan secara spesifik menyebut Behemoth dan band pendukungnya, Slaughter to Prevail, sebagai ancaman bagi iman pemuda Turki, dengan menuduh mereka mempromosikan "satanisme" melalui pakaian dan visual yang dianggap iblis. Narasi ini kemudian berkembang menjadi gelombang kritik di media sosial yang menuntut tindakan tegas dari pemerintah.
Pada tanggal 10 Februari 2026, Kantor Gubernur Distrik Beşiktaş secara resmi mengeluarkan perintah untuk melarang semua kegiatan konser dan festival di kompleks Zorlu PSM selama dua hari. Keputusan ini secara otomatis membatalkan pertunjukan Slaughter to Prevail yang dijadwalkan pada malam itu, serta konser Behemoth yang seharusnya berlangsung pada 11 Februari 2026. Alasan resmi yang diberikan oleh otoritas adalah adanya "reaksi publik" dan ketidaksesuaian acara tersebut dengan "nilai-nilai kemasyarakatan" Turki.
Gubernur Istanbul, Davut Gül, memperkuat posisi ini dengan menegaskan di platform media sosial bahwa aktivitas yang dianggap dapat merusak tatanan sosial tidak akan pernah diizinkan di Istanbul. Tindakan ini didasarkan pada Undang-Undang No. 2911 tentang Pertemuan dan Demonstrasi serta Undang-Undang No. 5442 tentang Administrasi Provinsi, yang memberikan wewenang luas kepada gubernur untuk melarang kegiatan yang dianggap mengancam keamanan atau ketertiban umum.
Pembatalan konser Behemoth di India
![]() |
| Photo source: instagram/behemoth |
Kasus pembatalan konser di Bangalore, India, untuk 3 Maret 2026, menunjukkan dimensi yang berbeda dibandingkan dengan Turki. Jika di Turki pembatalan datang dari atas (pemerintah), di India pembatalan didorong oleh ancaman keamanan dari bawah (kelompok masyarakat) yang memaksa pihak band untuk menarik diri demi keselamatan personel dan kru mereka. Pertunjukan di Phoenix Marketcity ini seharusnya menjadi kembalinya Behemoth ke tanah India setelah debut mereka di Hyderabad pada tahun 2016.
Behemoth dan tim manajemennya melaporkan bahwa mereka menerima serangkaian "ancaman kredibel" yang berasal dari kelompok-kelompok keagamaan Kristen di India. Kelompok-kelompok ini memberikan tekanan hebat kepada promotor acara, SkillBox, serta otoritas kepolisian setempat dengan tuduhan bahwa band tersebut akan melakukan penistaan agama. Muncul kekhawatiran serius mengenai potensi kekerasan fisik di lokasi konser serta risiko penangkapan anggota band berdasarkan hukum penodaan agama di India.
Meskipun promotor lokal telah berupaya keras untuk memberikan jaminan keamanan dan bertindak dengan itikad baik, pihak band menyimpulkan bahwa jaminan tersebut tidak cukup untuk melindungi mereka dari risiko konsekuensi hukum atau bahaya fisik. Alhasil, pada tanggal 16 Februari 2026, Behemoth merilis pernyataan resmi yang mengumumkan pembatalan tersebut sebagai bentuk respons terhadap "fanatisme agama" yang mencoba membatasi kebebasan berekspresi.
Ada pula laporan spekulatif yang menyebutkan bahwa eskalasi ancaman ini dipicu oleh sabotase internal dalam industri promotor musik di India, di mana pihak-pihak tertentu sengaja memicu sentimen keagamaan untuk merugikan SkillBox. Terlepas dari benar atau tidaknya spekulasi tersebut, peristiwa ini menggarisbawahi betapa rentannya acara budaya transgresif terhadap mobilisasi massa yang berbasis pada sentimen agama di India. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penggemar, tetapi juga merusak reputasi India sebagai destinasi tur internasional bagi artis metal ekstrem.
Perlawanan Ideologis dan Pembelaan Nilai Liberal
Behemoth, melalui pemimpinnya Adam "Nergal" Darski, merespons pembatalan di Turki dan India dengan narasi yang sangat kuat mengenai kebebasan berekspresi dan bahaya sensor. Dalam pernyataan resminya, band ini menyatakan kekecewaan mendalam bagi para penggemar yang telah melakukan perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya untuk menghadiri konser tersebut. Behemoth menegaskan bahwa mereka telah mencoba segala jalur diskusi dengan otoritas untuk mempertahankan acara, namun keputusan pemerintah tetap final dan tidak dapat diganggu gugat.
Band ini melabeli pembatalan tersebut sebagai contoh nyata dari "ideologi yang digunakan untuk menekan ekspresi artistik dan membatasi kebebasan budaya". Mereka berargumen bahwa musik bukanlah sebuah ancaman, melainkan tindakan membungkam musik itulah yang seharusnya menjadi kekhawatiran bagi siapa pun yang menghargai nilai-nilai liberal. Behemoth menyerukan agar orang-orang berdiri bersama dalam mendukung kebebasan kreatif dan melawan gerakan sensor yang mereka rasakan semakin menguat di seluruh dunia.
Respon ini juga mencerminkan filosofi jangka panjang Nergal yang memandang seni sebagai alat untuk menantang dogma. Ia sering menyatakan bahwa karyanya adalah eksplorasi sisi gelap manusia dan kritik terhadap kemunafikan institusi agama, yang menurutnya sering kali menggunakan pengaruh mereka untuk menindas perbedaan pendapat.
Bagaimana dengan Indonesia melihat band Behemoth?
Indonesia memiliki posisi yang menarik dalam sejarah tur Behemoth. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara mengejutkan sering kali lebih terbuka terhadap metal ekstrem dibandingkan beberapa negara dengan mayoritas agama lain yang pernah dikunjungi band ini. Behemoth telah tampil beberapa kali di Indonesia, menciptakan hubungan yang unik dengan komunitas metal lokal yang sangat militan.
Kota Solo di Jawa Tengah telah menjadi pusat aktivitas bagi Behemoth di Indonesia. Behemoth tercatat tampil pertama kali di Solo pada November 2013 dalam rangkaian tur "Dirty Black Autumn". Kehadiran mereka di Solo disambut dengan antusiasme yang luar biasa, menunjukkan bahwa infrastruktur dan toleransi masyarakat metal di Jawa Tengah cukup mumpuni untuk mengakomodasi band sekaliber Behemoth.
Pada tanggal 10 Desember 2023, Behemoth kembali ke Solo sebagai salah satu penampil utama dalam festival Rock In Solo yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg. Dalam konser tersebut, Behemoth membawakan setlist yang panjang, termasuk lagu-lagu hits seperti "Conquer All," "Ora Pro Nobis Lucifer," dan ditutup dengan "Chant for Eschaton 2000". Konser ini dianggap sebagai salah satu pencapaian besar bagi promotor lokal Indonesia dalam membawa artis internasional yang kontroversial tanpa memicu konflik sosial yang berarti.
Selain kesuksesan di Solo, Behemoth juga sempat dijadwalkan tampil di Bali, namun acara tersebut berakhir dengan kekecewaan. Band ini menyatakan bahwa mereka telah menjadi korban ketidakprofesionalan promotor lokal di Bali, yang mengakibatkan pembatalan pertunjukan dan kerugian finansial yang besar bagi pihak band karena mereka harus menanggung sendiri biaya kepulangan kru dan personel. Pengalaman pahit ini membuat Behemoth sempat mengeluarkan pernyataan keras terhadap promotor tertentu yang dianggap merusak reputasi industri musik di Indonesia, meskipun mereka tetap memuji promotor lain yang bekerja secara profesional.
Daftar Negara yang Melakukan Blacklist dan Pelarangan Terhadap Behemoth
Reputasi Behemoth sebagai band yang provokatif telah menyebabkan mereka menghadapi berbagai bentuk pelarangan masuk atau "blacklist" di beberapa negara. Meskipun tidak semua negara memiliki daftar hitam resmi yang dipublikasikan secara terbuka, tindakan deportasi dan pelarangan administratif menunjukkan posisi tegas pemerintah setempat terhadap band ini.
Kasus yang paling terkenal terjadi di Rusia pada Mei 2014. Saat itu, Behemoth sedang menjalani tur 13 kota yang bertajuk "Russian Satanist". Setelah menyelesaikan empat konser pertama, mereka ditahan di Yekaterinburg oleh Dinas Imigrasi Federal dengan alasan penggunaan visa yang salah (visa budaya alih-alih visa kerja). Namun, banyak pengamat meyakini bahwa alasan sebenarnya adalah tekanan dari kelompok Persaudaraan Ortodoks yang keberatan dengan konten pertunjukan mereka. Akibat insiden ini, seluruh anggota band didenda, dideportasi, dan dilarang masuk ke Rusia selama lima tahun. Larangan ini baru dicabut pada tahun 2020, meskipun situasi politik tetap membuat kunjungan mereka ke Rusia sangat berisiko.
Di Belarusia, Behemoth juga menghadapi pelarangan. Pada Mei 2014, konser mereka yang sudah direncanakan harus dibatalkan setelah otoritas mencabut sertifikat konser akibat tekanan dari Gereja Ortodoks Rusia. Belarusia dikenal memiliki sistem "blacklist" tidak resmi bagi artis yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi negara atau menyinggung institusi agama yang berpengaruh.
Beberapa negara lain juga secara konsisten membatasi aktivitas band metal ekstrem yang dianggap mengusung tema satanisme. Malaysia, melalui Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), memiliki rekam jejak melarang band-band seperti Lamb of God dan Mayhem, dan Behemoth sering kali masuk dalam radar pengawasan ketat yang mengakibatkan sulitnya memperoleh izin pertunjukan. Singapura juga pernah melarang beberapa pertunjukan metal ekstrem dengan alasan perlindungan kerukunan beragama, seperti yang dialami oleh band Watain pada tahun 2019. Meskipun tidak ada larangan permanen, Behemoth menghadapi tantangan serupa di banyak negara Timur Tengah dan Asia yang memiliki regulasi sensor yang kaku.
Kontroversi Behemoth
Dinamika antara Behemoth dan hukum sering kali dipicu oleh aksi panggung mereka yang secara sengaja menantang simbol-simbol suci. Kontroversi ini bukan sekadar tindakan acak, melainkan bagian dari ekspresi artistik yang dirancang untuk memicu pemikiran kritis tentang peran agama dalam masyarakat modern.
Kontroversi paling signifikan terjadi pada September 2007 di klub musik di Gdynia, Polandia. Adam "Nergal" Darski merobek sebuah Alkitab di atas panggung, menyebut Gereja Katolik sebagai "kultus paling mematikan" dan kitab suci tersebut sebagai "buku bohong". Peristiwa ini direkam dan disebarkan, memicu kemarahan dari kelompok konservatif seperti All-Polish Committee for Defense Against Sects yang dipimpin oleh Ryszard Nowak. Nergal menghadapi serangkaian persidangan panjang di Polandia dengan dakwaan menyinggung perasaan keagamaan. Meskipun sempat dibebaskan pada 2011, Mahkamah Agung Polandia kemudian memutuskan bahwa tindakannya tetap merupakan kejahatan meskipun ia tidak berniat menyinggung perasaan orang tertentu secara spesifik.
Pada tahun 2018, Behemoth menghadapi masalah hukum terkait logo "The Republic of the Unfaithful" yang dianggap menghina lambang negara Polandia, Elang Putih, dengan menambahkan simbol-simbol satanik. Kemudian pada tahun 2019, Nergal mengunggah foto di media sosial yang menunjukkan sebuah kaki (yang diduga miliknya) menginjak gambar Perawan Maria. Hal ini memicu dakwaan baru atas penodaan agama. Pada tahun 2021, ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan Warsawa dan diperintahkan membayar denda ribuan złoty. Nergal menolak membayar denda tersebut dan memilih untuk membawa kasusnya ke pengadilan penuh, yang kemudian melahirkan inisiatif "Ordo Blasfemia".
Apa yang Diperjuangkan Behemoth?
Di balik setiap pembatalan dan kasus hukum, terdapat misi ideologis yang secara konsisten disuarakan oleh Nergal. Melalui kampanye Ordo Blasfemia yang diluncurkan pada awal 2021, Behemoth tidak hanya membela diri mereka sendiri, tetapi juga berupaya menciptakan payung hukum bagi seniman lain yang menghadapi penindasan serupa.
Misi utama dari Ordo Blasfemia adalah untuk menggalang dana guna melawan "hukum penistaan agama yang arkais" di Polandia dan negara-negara lain. Nergal berpendapat bahwa undang-undang semacam itu sering kali disalahgunakan oleh politisi dan kelompok fundamentalis untuk membungkam kritik dan menyensor siapa pun yang tidak mengikuti norma agama mayoritas. Behemoth memperjuangkan transisi Polandia menjadi negara sekuler yang sepenuhnya memisahkan urusan agama dari regulasi ekspresi seni.
Behemoth berargumen bahwa kebebasan berekspresi adalah prinsip fundamental yang tidak boleh dikompromikan oleh agama, ras, atau budaya tertentu. Melalui pembatalan di Turki dan India pada 2026, mereka mencoba menarik perhatian dunia terhadap "gelombang sensor yang tumbuh" secara global. Bagi mereka, perjuangan ini bukan tentang membenci agama, tetapi tentang melindungi hak individu untuk berpikir dan berkarya tanpa rasa takut akan hukuman penjara atau intimidasi fisik.
Dukungan terhadap Ordo Blasfemia datang dari berbagai komunitas internasional, termasuk band-band besar seperti Dead Can Dance, yang menyatakan bahwa hukum agama yang kuno adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sekuler. Behemoth ingin memastikan bahwa seniman masa depan tidak perlu mengalami pelecehan sistematis yang telah mereka hadapi selama lebih dari dua dekade.
Pembatalan konser Behemoth di Turki dan India pada tahun 2026 memberikan wawasan yang lebih luas mengenai dinamika kekuasaan di era digital. Pengaruh media sosial memungkinkan narasi kelompok kecil untuk diamplifikasi menjadi tekanan politik yang signifikan, memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan preventif demi menjaga "stabilitas" dan "nilai-nilai".
Di Turki, penggunaan istilah "nilai-nilai kemasyarakatan" sebagai alat hukum untuk melarang ekspresi seni menunjukkan pergeseran ke arah pemerintahan yang lebih intervensionis dalam urusan budaya. Hal ini menciptakan preseden berbahaya di mana definisi "moralitas" menjadi sangat subyektif dan bergantung pada arah politik pemerintah yang sedang berkuasa. Sementara itu, di India, kegagalan dalam memberikan jaminan keamanan fisik bagi artis internasional menunjukkan adanya tantangan besar dalam penegakan hukum terhadap kelompok radikal yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.
Bagi industri musik metal secara global, kasus-kasus ini menjadi peringatan akan pentingnya riset pasar dan mitigasi risiko politik sebelum merencanakan tur di wilayah yang memiliki tensi sosioreligius yang tinggi. Namun, bagi Behemoth, setiap rintangan ini justru memperkuat status mereka sebagai ikon perlawanan, menjadikan setiap pembatalan sebagai bukti tambahan bagi argumen mereka tentang perlunya sekularisme dan kebebasan mutlak dalam berkesenian.
Kebebasan Artistik di Persimpangan Jalan
Analisis mendalam terhadap pembatalan konser Behemoth di Turki dan India pada tahun 2026 mengungkap kompleksitas yang melampaui sekadar masalah jadwal pertunjukan. Ini adalah cerminan dari pergulatan ideologis global antara hak individu untuk berekspresi secara bebas dan keinginan institusi kolektif untuk mempertahankan tradisi serta moralitas melalui sensor. Behemoth, dengan sejarah panjang kontroversi dan keberanian mereka dalam menghadapi konsekuensi hukum, telah bertransformasi dari sebuah grup musik metal menjadi martir bagi kebebasan artistik sekuler.
Meskipun penggemar di Turki dan India harus menelan kekecewaan, dampak dari pembatalan ini telah memicu dialog global yang lebih luas mengenai batasan sensor di era modern. Inisiatif seperti Ordo Blasfemia menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penindasan artistik kini dilakukan secara lebih terorganisir, menggunakan instrumen hukum yang sama yang sering kali digunakan untuk menekan mereka. Ke depan, perjuangan Behemoth akan terus menjadi tolok ukur bagi kesehatan demokrasi dan kebebasan sipil di berbagai belahan dunia, di mana seni akan selalu menjadi garis depan dalam menantang kekuasaan yang absolut dan dogma yang tidak dapat dipertanyakan.



